Sejarah Kabupaten Sidrap

http://udhy-asbudi.blogspot.com/2014/04/sejarah-kabupaten-sidrap.html
Logo Kabupaten Sidrap
Sejarah Kabupaten Sidrap, Sejarah Sidrap, Sejarah Sidenreng Rappang, Sejarah Kabupaten Sidenreng Rappang, Asal Mula Nama Sidrap, Asal Mula Nama Sidenreng Rappang, Silsilah Kerajaan Sidenreng Rappang, Silsilah Kerajaan Sidrap, Sejarah Suku Ogi'e Kabupaten Sidrap, Topografi Sidrap, Perekonomian Sidrap, Tempat Pariwisata Sidrap. Kabupaten Sidenreng Rappang (disingkat dengan nama Sidrap) adalah salah satu kabupaten di provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di Sidenreng. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 2.506,19 km2 dan berpenduduk sebanyak kurang lebih 264.955 jiwa. Penduduk asli daerah ini adalah suku Bugis yang ta'at beribadah dan memegang teguh tradisi saling menghormati dan tolong-menolong. Dimana-mana dapat dengan mudah ditemui bangunan masjid yang besar dan permanen.

Sejarah Kabupaten Sidrap
Berdasarkan Lontara’ Mula Ri Timpakenna Tana’e Ri Sidenreng halaman 147, dikisahkan tentang seorang raja bernama Sangalla. Ia adalah seorang raja di Tana Toraja. Konon Memiliki sembilan orang anak yaitu La Maddarammeng, La Wewanriru, La Togellipu, La Pasampoi, La Pakolongi, La Pababbari, La Panaungi, La Mampasessu, dan La Mappatunru. Sebagai saudara sulung, La Maddaremmeng selalu menekan dan mengintimidasi kedelapan adik-adiknya, bahkan daerah kerajaan adik-adiknya ia rampas semua. Karena semua adiknya tidak tahan lagi dengan perlakuan kakaknya, mereka pun sepakat meninggalkan Tana Toraja.

Karena perjalanan yang melelahkan, mereka kehausan lalu mencari jalan ke tepi genangan air di pinggir danau. Namun, danau itu ternyata berada di hutan yang lebat, sehingga sulit bagi mereka untuk mencapainya. Karena harus menembus semak belukar yang lebat, mereka pun Sirenreng-renreng (saling berpegangan tangan).Sesampainya di sana, mereka minum sepuas-puasnya dan duduk beristirahat kemudian mandi. Setelah itu, mereka berdiskusi bertukar pikiran tentang nasib yang merka jalani. Akhirnya, mereka sepakat untuk bermukim di tempat itu. Di sanalah mereka memulai kehidupan baru untuk bertani, berkebun, menangkap ikan, dan beternak. Semakin hari, pengikut-pengikutnya pun semakin banyak. Tempat itulah yang kemudian dikenal“Sidenreng“, yang berasal dari kata Sirenreng-renreng mencari jalan ke tepi danau, dan danau itulah yang sekarang dikenal dengan danau Sidenreng.

Dari situ, terbentuk kerajaan Sidenreng.
Menurut sejarah, Sidenreng Rappang awalnya terdiri dari dua kerajaan, masing-masing Kerajan Sidenreng dan Kerajaan Rappang. Kedua kerajaan ini sangat akrab. Begitu akrabnya, sehingga sulit ditemukan batas pemisah. Bahkan dalam urusan pergantian kursi kerajaan, keduanya dapat saling mengisi. Seringkali pemangku adat Sidenreng justru mengisi kursi kerajaan dengan memilih dari komunitas orang Rappang. Begitu pula sebaliknya, bila kursi kerajan Rappang kosong, mereka dapat memilih dari kerajaan Sidenreng .Itu pula sebabnya, sulit untuk mencari garis pembeda dari dua kerajaan tersebut. Dialek bahasanya sama, bentuk fisiknya tidak beda, bahasa sehari-harinya juga mirip. Kalaupun ada perbedaan yang menonjol, hanya dari posisi geografisnya saja. Wilayah Rappang menempati posisi sebelah Utara, sedangkan kerajaan Sidenreng berada di bagian Selatan.

Kedua kerajaan tersebut masing-masing memiliki sistem pemerintahan sendiri. Di kerajaan Sidenreng kepala pemerintahannya bergelar Addatuang. Pada pemerintahan Addatuang, keputusan berasal dari tiga sumber yaitu, raja, pemangku adat dan rakyat. Sedangkan di Kerajaan Rappang rajanya bergelar Arung Rappang dan menyandarkan sendi pemerintahanya pada aspirasi rakyat. Demokrasi sudah terlaksana pada setiap pengambilan kebijakan. Demokrasi bagi kerajaan Rappang adalah sesuatu yang sangat penting, salah satu bentuk demokrasinya adalah penolakan diskriminasi gender. Perbedaan gender tidak menjadi masalah, khususnya bagi kaum wanita untuk meniti karir sebagaimana layaknya kaum pria. Buktinya, adalah emansipasi wanita sudah ditunjukkan dengan seorang perempuan yang menjadi rajanya, yaitu Raja Dangku, raja kesembilan yang terkenal cerdas, jujur, dan pemberani. Wanita yang kemudian dikenal sukses menjalankan roda pemerintahan di zamannya.

Pada saat pengakuan kedaulatan republik Indonesia oleh Belanda tanggal 27 Desember 1949, berakhirlah dinasti Kerajaan Sidenreng dan Kerajaan Rappang. Ketika bumi Indonesia kemudian melepaskan diri dari belenggu penjajah, ketika pekik kemerdekaan menggema di seantero nusantara, kerajaan Sidenreng lebih awal menunjukkan watak nasionalismenya dengan bersedia melepaskan sistem kerajaan mereka. Padahal sistem itu sudah berlangsung lama, sampai 21 kali pergantian pemimpin. Mereka memilih berubah dan menyatu dengan pola ketatanegaraan Indonesia. Kerajaan akhirnya melebur menjadi kabupaten Sidenreng Rappang, dengan bupati pertamanya H. Andi Sapada Mapangile dan untuk pertama kalinya dalam sejarah pemerintahan Sidenreng Rappang dilakukan pemilihan umum untuk memilih bupati secara langsung pada tanggal 29 Oktober 2008 lalu.

Di daerah ini pernah hidup seorang Tokoh Cendikiawan Bugis yang cukup terkenal pada masa Addatuang Sidenreng dan Addatuang Rappang (Addatuang adalah semacam pemerintahan distrik di masa lalu yang dipimpin oleh seorang perempuan) yang bernama 'Nenek Mallomo'. Dia bukan berasal dari kalangan keluarga istana, akan tetapi kepandaiannya dalam tata hukum negara dan pemerintahan membuat namanya cukup tersohor. Sebuah tatanan hukum yang sampai saat ini masih diabadikan di Sidenreng, yaitu:

Naiya Ade'e De'nakkeambo, de'to nakkeana

artinya: Sesungguhnya adat itu tidak mengenal Bapak dan tidak mengenal Anak

Kata bijaksana itu dikeluarkan Nenek Mallomo' ketika dipanggil oleh Raja untuk memutuskan hukuman kepada putera Nenek Mallomo' yang mencuri peralatan bajak tetangga sawahnya. Dalam Lontara' La Toa, Nenek Mallomo' disepadankan dengan tokoh-tokoh Bugis-Makassar lainnya, seperti I Lagaligo, Puang Rimaggalatung, Kajao Laliddo dan sebagainya. Keberhasilan panen padi di Sidenreng karena ketegasan Nenek Mallomo' dalam menjalankan hukum, hal ini terlihat dalam budaya masyarakat setempat dalam menentukan masa tanam melalui musyawarah yang disebut TUDANG SIPULUNG (Tudang = Duduk, Sipulung = Berkumpul atau dapat diterjemahkan sebagai suatu Musyawarah Besar) yang dihadiri oleh para Pallontara' ahli mengenai buku Lontara') dan tokoh-tokoh masyarakat adat. Melihat keberhasilan TUDANG SIPULUNG yang pada mulanya diprakarsai oleh Bupati kedua, Bapak Kolonel Arifin Nu'mang sebelum tahun 1980, daerah-daerah lain pun sudah menerapkannya.Saat ini SIDRAP dipimpin oleh bupati termuda di Indonesia H. Rusdi Masse. 

Sesuai dengan perubahan zaman maka peraturan daerah Sidrap nomor 10 tahun 2000 tentang pembentukan dan susunan organisasi kecamatan dan kelurahan mengalami perubahan dari Tujuh kecamatan menjadi sebelas kecamatan, yakni :
1. Kecamatan Panca Lautang
2. Kecamatan Tellu Limpoe
3. Kecamatan Watang Pulu
4. Kecamatan Maritenngae
5. Kecamatan Baranti
6. Kecamatan Panca Rijang
7. Kecamatan kulo
8. Kecamata Sidenreng
9. Kecamatan Dua PituE
10. Kecamatan Pitu Riase
11. Kecamatan Pitu Riawa

Topografi Sidrap 
Kabupaten Sidenreng Rappang terletak pada ketinggian antara 10 m – 1500 m dari permukaan laut. Keadaan Topografi wilayah di daerah ini sangat bervariasi berupa wilayah datar seluas 879.85 km² (46.72%), berbukit seluas 290.17 km² (15.43%) dan bergunung seluas 712.81 km2 (37.85%).

Perekonomian Sidrap 
Kabupaten Sidenreng Rappang merupakan salah satu sentra penghasil beras di Sulawesi Selatan. Hal ini terutama didukung oleh jaringan irigasi teknis yang mampu mengairi sawah sepanjang tahun. Beberapa jaringan irigasi yang ada di Sidenreng Rappang antara lain:

1. Jaringan Irigasi Bulu Cenrana, mengairi 6000 hektar sawah
http://udhy-asbudi.blogspot.com/2014/04/sejarah-kabupaten-sidrap.html
Irigasi Sungai Bulu Cenrana mengairi 6000 hektar sawah di Kabupaten Sidenreng Rappang

2. Jaringan Irigasi Bila, mengairi 5400 hektar sawah
http://udhy-asbudi.blogspot.com/2014/04/sejarah-kabupaten-sidrap.html
Irigasi Sungai Bila mengairi 9600 hektar sawah di Kabupaten Sidenreng Rappang

3. Jaringan Irigasi Bulu Timoreng, mengairi 5400 hektar sawah

Selain penghasil utama beras di Indonesia Bagian Timur, daerah ini juga merupakan penghasil utama telur ayam dan telur itik di luar Pulau Jawa. Komoditas pertanian lainnya adalah kakao, kopra, mete dan kemiri serta hasil hutan berupa kayu dan rotan . 

Tempat Pariwisata Sidrap 

Sidrap memiliki beberapa tempat wisata antara lain:
http://udhy-asbudi.blogspot.com/2014/04/sejarah-kabupaten-sidrap.html
Taman wisata Puncak Bila Riase

  1. Taman Wisata Puncak - Bila Riase. Taman wisata air dengan wahana sepeda air, kanoe boat, aqua bikes, flying fox, Motor ATV, pemancingan, waterboom, dan lain-lain.
  2. Mojong.
  3. Cekdam - salah satu tempat rekreasi yang baik untuk keluarga karena memiliki tempat memancing ikan, kafe-kafe, tempat untuk memberi makan ikan di kelurahan batu kec.pituriase.
  4. Danau Sidenreng 
  5. Air terjun terletak ditengah hutan baik untuk para pecinta alam 

 Jayalah Selalu Sidenreng Rappang "Resopa Temmangingngi Namalomo Naletei Pammase Dewata" 

semoga bermanfaat
Disqus
Blogger
Pilih Sistem Komentar

36 comments

wih keren gan sejarahnya mantep, menambah informasi kalau kapan" mau main ke tempat bersejarah makasih gan

Balas

Ane belum pernah ke sulawesi gan, tapi setidaknya info dari agan ngasih gambaran lah makasih gan bagus artikelny :)

Balas

siiip gan, silahkan berkunjung :D

Balas

sama-sama gan, kapan2 silahakn berkunjung ke Daerah saya :-bd

Balas

Terima kasih atas infonya gan, Kabupaten di tempat agan memang indah.

Balas

iya gan, makasih udah berkunjung, kapan kapan kesana yach :-d

Balas

saya belum pernah ke sulawesi gan. :D gak punya saudara di sana.

Balas

cari aja istri disulawesi gan, dijamin bakal betah =D

Balas

saya juga belum pernah ke sulawesi boz..

Balas

informasi yang bgus gan.. lanjutkan postingannya gan,

Balas

berkunjung ke sulawesi boz kalau ada waktu pasti suka N ketagihan :D

Balas

Ohh bgitu toh sjarah nya :)
makasih info nya mas

Balas

Lengkap banget! |o| Izin nyimakk gan :ok

Balas

sangat menyukai sejarah, menelusuri jejak asal muasal suatu suku/daerah sangat menarik, mengenal lebih jauh hal-hal yang melatari terbentuknya sebuah daerah membuat sy paham dan mencintai negeri ini.... postingan yang menarik sekali, thanks tuk sharenya.... :)

Balas

iya donk gan, harus lengkap :ok

Balas

iya mas, ini sejarah daerah saya, terimaksih sudah berkunjung :lovely

Balas

dibaca ampe abizzzt gan kalau seru IoI

Balas

baru tau nih sejarahnya, saya cuma baru tau nama kota'a doank, menginjak tanah sulawesi mah belum hehe

makasih gan udah share bisa nih buat referensi dan khasanah pengetahuan tentang kab. Sindrap :)

Balas

Wow,Lengkap Disini Nicei info

Balas

sama-sama gan, kapan kesini yach.. itung2 berwisata daerah :-bd

Balas

Baru tahu saya hehe, makasih udah share

Balas

Makasi gan... sama kaya yang lain.. saya berharap kedepanya bisa ke sulawesi.. doakan bisa main ke tempat agan

Balas

iya gan, mudah2an.. amin ... :D

Balas

Tanggal dan tahun lahirnya mana gang.?

Balas

Boleh sharing Nene' Mallomo yang pernah saya baca dalam pelajaran Bahasa Daerah nama aslinya adalah La Pagala, seorang laki-laki

Balas

iya mas boleh, memang mas masih banyak kisah Beliau yang belum dibahas karena jika sejarah Beliau ditelusuri maka pembahasannya tentu lain lagi. Ini hanya tentang Sidrap secara Umumm dan Untuk Sejarah Beliau mungkin akan dibahas pada artikel selanjutnya. Atau mas punya artikel tentang sejarah Beliau, kalau mas berkenan boleh dikirim ke email saya untuk dipublish disini :)

Balas

- Berkomentarlah yang sopan
- Komentar tidak OOT ( Out Of Topic )
- Jangan Menaruh Livelink atau sejenisnya

Advertiser

Live Chat Cara Terbaru
×
_

Hai! Kamu bisa kirim pesan ke Admin di sini, jangan lupa LIKE Cara Terbaru ya... Terima kasih.